Dikotomi Adat dan Ketamakan Datuk Meringgih

Dikotomi Adat dan Ketamakan Datuk Meringgih

Novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli sangat kental membawakan kisah romantisme klasik di Indonesia. Romantisme ini tidak hanya terjalin antara tokoh utama, yakni Siti Nurbaya dan Samsulbahri, yang dikisahkan saling mencintai dengan sangat kuat, tetapi juga terbangun di antara tokoh-tokoh pendukung lainnya, misalnya hubungan harmonis antara Sutan Mahmud (ayah Samsulbahri) dengan keluarganya. Romantisme ini tidak mengalir begitu saja, melainkan dibangun dan dipengaruhi oleh adat istiadat di latar tempat novel.

Dengan mengambil latar tempat di sebuah daerah bernama Kampung Jawa Dalam, Padang, pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, adat istiadat Melayu Padang dengan corak keislaman yang kuat terasa kental, baik dari segi penokohan maupun konflik yang timbul dalam cerita. Pada mulanya, Samsulbahri dan Siti Nurbaya adalah muda-mudi yang menjalin persahabatan seperti lazimnya. Mereka karib sejak kecil karena hubungan baik antara ayah Samsulbahri, Sutan Mahmud (seorang Penghulu kampung dan berdarah bangsawan tinggi), dengan ayah Siti Nurbaya, Baginda Sulaiman (seorang pedagang sukses di tanah Melayu). Status sosial kedua orang tua inilah yang membawa keduanya memiliki kesempatan bersekolah tinggi di sekolah Belanda yang ada di Padang. Samsulbahri dikisahkan sebagai tokoh yang cerdas dan punya pemikiran maju, lahir dari dorongan ayahnya.

Akan tetapi, permulaan konflik dalam cerita terjadi sejak Samsulbahri memutuskan untuk merantau ke Jakarta guna melanjutkan pendidikannya. Samsulbahri baru menyampaikan perasaannya kepada Siti Nurbaya semalam sebelum ia meninggalkan Padang. Gejolak asmara yang tumbuh seketika itu memabukkan keduanya karena dihadapkan dengan perubahan situasi yang drastis: hubungan persaudaraan yang terbangun sejak kecil berubah menjadi perasaan cinta, sementara kenyataan menuntut keduanya harus berpisah dalam waktu yang lama. Titik inilah yang menjadi permulaan alur cerita yang maju dan runut dari novel ini.

Peran Sutan Mahmud sebagai pembawa pesan dikotomi adat istiadat dalam novel ini sangat kuat. Sutan Mahmud, yang merupakan penghulu dan seorang bangsawan, justru menjadi tokoh yang sangat menentang adat masyarakat Minangkabau, yang saat itu juga kental dengan ajaran Islam. Percakapan antara Sutan Mahmud dengan saudaranya, Putri Rubiah, dapat menjelaskan komponen utama dikotomi adat tersebut. Sutan Mahmud dikisahkan menjadi seorang yang tidak mengikuti adat dan kebiasaan masyarakat Minangkabau. Misalnya, ia menolak untuk beristri lebih dari satu orang, meskipun posisinya sebagai Penghulu dan dibolehkannya dalam Islam beristri hingga empat orang. Pernikahan Sutan Mahmud dengan Maryam juga dinilai mendegradasi kebangsawanan dirinya, sebab ia menikah dengan perempuan yang bukan dari kalangan bangsawan. Selain itu, Sutan Mahmud juga tidak mengindahkan pernyataan saudaranya mengenai kebiasaan bahwa anak merupakan tanggungan dari Mamak (saudara dari pihak istri), sebagaimana ia harus menanggung anak Rubiah. Pandangan serupa juga dimiliki koleganya, Baginda Sulaiman, yang tidak beristri bangsawan dan hanya beristri satu, bahkan memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah Ibu Siti Nurbaya meninggal dunia.

Pandangan Sutan Mahmud yang melenceng dari adat tersebut ditengarai terpengaruh dari jabatan dan interaksi sosialnya sebagai Penghulu. Latar waktu novel ini mengambil cerita abad ke-20, ketika wilayah Nusantara masih di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Penghulu, menurut penulis, merupakan kepala keamanan kampung yang menjadi perpanjangan tangan kolonial. Atas dasar itu pula, Sutan Mahmud mendorong kemajuan anaknya dengan menyekolahkannya ke Jakarta. Selain percakapan Sutan Mahmud dan Rubiah, peristiwa selanjutnya yang memperkuat kritik sosial dari sebuah dikotomi adat adalah percakapan antara Ayah dan Ibu Alimah. Alimah merupakan sanak saudara Siti Nurbaya yang didatangi Nurbaya setelah dipulangkan paksa oleh Datuk Meringgih dari Jakarta karena fitnah yang diterimanya. Ayah dari Alimah juga menentang perkawinan lebih dari satu kali.

Menariknya, beberapa contoh penentangan adat dalam novel ini justru dibawakan oleh para tokoh laki-laki, padahal dalam adat Minangkabau, sistem patriarki masih kuat. Hanya Sutan Hamzah, adik dari Sutan Mahmud, yang mewakili keperkasaan patriarki dan mewarisi adat Minangkabau saat itu. Akan tetapi, penokohan terhadapnya dibuat memiliki citra yang buruk, seperti menjadi seorang penjudi, sehingga ketahanan adat semakin goyah.

Kehadiran tokoh Datuk Meringgih sebagai antagonis membangun tubuh cerita yang semakin kompleks. Meskipun peristiwa pernikahannya dengan Siti Nurbaya terjadi karena terpaksa, sebenarnya isi cerita ini bukan semata-mata soal perkawinan paksa. Datuk Meringgih merupakan tokoh yang tamak dan berambisi tinggi. Bahkan, melebihi hasratnya terhadap perempuan, yang paling dominan dari Datuk Meringgih adalah ketamakannya terhadap harta. Walaupun dalam cerita Datuk Meringgih dikisahkan telah menikah berkali-kali, ia diceritakan menceraikan istrinya satu per satu setiap kali ingin menikah lagi. Dalihnya adalah ajaran Islam hanya membolehkan beristri empat, padahal sejatinya Datuk jauh lebih memikirkan hartanya. Datuk Meringgih tidak hanya kikir kepada orang lain—sekalipun istrinya—tetapi juga kepada dirinya sendiri.

Dalam adat istiadat masyarakat Minangkabau, seorang wanita atau keluarga wanita cenderung "membeli" seorang lelaki. Peran lelaki dinilai sangat kuat dalam meneruskan keturunan bagi wanita, apalagi jika sang lelaki merupakan bangsawan atau pengusaha besar, seperti orang kaya macam Datuk Meringgih. Kekuatan transaksional dalam pernikahan inilah yang menyebabkan Siti Nurbaya, yang merupakan perempuan penurut dan penyayang, harus merelakan dirinya dinikahi sebagai tebusan atas utang ayahnya, Baginda Sulaiman, kepada Datuk Meringgih.

Akibat dari peristiwa itu, tokoh utama Samsulbahri mengalami perubahan perilaku yang signifikan dan tujuan yang melenceng dari semula. Meskipun demikian, karakter tokoh ini dibuat secara konsisten, yakni sebagai seorang yang gigih dan berpegang teguh pada perkataannya. Setelah menerima surat dari Siti Nurbaya mengenai pernikahannya dengan Datuk Meringgih, Samsulbahri bukan lagi dikisahkan sebagai seorang pemuda yang hendak menggapai cita-citanya dan meneruskan pendidikan yang tinggi. Kepulangannya ke Padang saat libur Ramadan membawanya bertemu dengan Siti Nurbaya. Pertemuan itu menjadi pemicu amarah bagi Datuk Meringgih, dengan dalih melanggar adat istiadat karena telah bercumbu dengan istrinya. Peristiwa itu juga mempertegas pengaruh budaya Eropa (barat) terhadap Samsulbahri yang telah menempuh pendidikan tinggi di Jakarta. Samsulbahri tidak lagi beradat; hasrat besarnya terhadap Siti Nurbaya menggelapkan matanya terhadap ikatan pernikahan orang lain.

Dalam novel tersebut, Siti Nurbaya dikisahkan menjadi wanita pemurung dan kurang sehat setelah menikah dengan Datuk Meringgih. Akan tetapi, alasannya adalah karena keterpaksaannya menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya, melainkan seorang lelaki tua kikir dan tamak yang hanya ingin memuaskan hawa nafsunya. Tidak dikisahkan sebelum peristiwa perkelahian Samsulbahri dan Datuk Meringgih malam itu bahwa Siti Nurbaya mendapatkan siksaan secara fisik yang dapat mengancam nyawanya dari Datuk Meringgih. Justru, ketidakmampuan Siti Nurbaya dan Samsulbahri menerima realita itulah yang mengantarkan Datuk Meringgih menjadi beringas dan mulai mengincar nyawa Siti Nurbaya. Siti Nurbaya sendiri kala itu masih menjadi istri sah Datuk Meringgih dan memilih kabur ke Jakarta menemui Samsulbahri.

Samsulbahri, di sisi lain, dalam peristiwa-peristiwa selanjutnya dikisahkan mencari berbagai jalan untuk memenuhi hasratnya hidup bersama Siti Nurbaya. Bahkan, dirinya masuk menjadi prajurit Belanda yang kemudian menjadi jalan membawanya membalaskan dendam terhadap kematian Siti Nurbaya di tangan Datuk Meringgih. Upaya-upaya Datuk Meringgih dalam membunuh Siti Nurbaya pun menjadi bukti bahwa dirinya tidak menjadikan perempuan sebagai objek ketamakannya yang utama, melainkan harta.

Bukti ini terlihat pada malam perkelahian itu, di mana Datuk Meringgih sudah hendak merelakan Siti Nurbaya untuk bercerai. Syaratnya, ia akan mengambil rumah dan tanah milik Baginda Sulaiman menjadi miliknya, sebagaimana ia telah merenggut seluruh usaha dagang milik kompetitornya tersebut. Namun, Siti Nurbaya menolak dengan dalih bahwa rumah dan tanah itu adalah atas nama dirinya.

Datuk Meringgih pula yang menjadi penggerak perlawanan masyarakat Padang kala itu ketika Pemerintahan Kolonial Belanda hendak memungut Belasting (pajak). Belasting ini bertujuan memungut pajak untuk keperluan sosial dan infrastruktur, seperti perbaikan jalan dan jembatan. Datuk Meringgih menganggap kebijakan itu akan mengancam ketahanan harta kekayaannya. Ia pun menghasut masyarakat untuk melawan dan menimbulkan kekacauan, bukan dengan motivasi murni untuk membela nasib masyarakat miskin, tetapi memanfaatkan massa yang besar itu untuk menjaga harta kekayaannya.

Konflik-konflik dalam cerita hanya menghasilkan perubahan perilaku tokoh, namun secara konsisten menggambarkan sifat dasar tokoh utama, seperti Samsulbahri yang gigih, Siti Nurbaya yang penurut, serta Datuk Meringgih yang tamak. Meskipun demikian, dalam catatan penulis, ada beberapa peristiwa yang dinilai tidak logis dan tidak menambah dramatisasi dalam cerita. Contohnya, kematian Ibu Samsulbahri, Maryam, hanya karena beban pikiran akan anaknya yang diusir oleh ayahnya sendiri dari Padang dan mendengar kabar meninggalnya Siti Nurbaya. Kematian Maryam yang kemudian dimakamkan secara berdampingan dengan Siti Nurbaya tidak menambah efek dramatisasi karena relatif dipaksakan. Begitu juga dengan kematian ayahnya, Sutan Mahmud. Kelima tokoh yang dimakamkan berdekatan—Baginda Sulaiman, Sutan Mahmud, Maryam, Siti Nurbaya, dan Samsulbahri—sebagai penutup cerita membuat cerita menjadi antiklimaks.

Akan tetapi, menurut hemat penulis, novel ini memang dibuat dengan mengedepankan tema Romantisme Klasik yang cirinya berakhir tragis dan menjadi Kisah yang Tak Sampai. Sudut pandang orang ketiga serba tahu membuat novel ini menjadi kaya akan karakter tokoh, tidak hanya bagi tokoh utama saja, dan membuat cerita menjadi lebih hidup. Alur ceritanya juga dibuat naratif, di mana akhir cerita novel dibuat berada di tempat pertama kali Samsulbahri, Siti Nurbaya, dan kedua sahabatnya (Arifin dan Bakhtiar) bertemu, yakni di Gunung Padang ketika kedua pemuda yang telah menggapai cita-citanya itu melayat ke makam kedua sahabatnya. Gaya bahasa dengan sentuhan Melayu klasik, namun makna ceritanya tetap dapat dimengerti.