Kasih yang Tak Pernah Benar-Benar Usai

Kasih yang Tak Pernah Benar-Benar Usai

Membaca Siti Nurbaya karya Marah Rusli , kita seolah sedang menatap cermin masa lalu yang memantulkan wajah manusia modern hari ini. Novel ini tidak hanya tentang cinta yang kandas, tetapi juga tentang benturan antara kehendak hati dan kekuatan sosial yang jauh lebih besar. Kekuatan tersebut bernama adat. Di dalamnya, Marah Rusli seakan berbisik bahwa cinta, seagung apa pun, dapat layu di hadapan kewajiban yang dipaksakan oleh tradisi.

Ada dua hal utama yang diolah dengan baik oleh penulis pada novel ini, yakni cinta dan adat istiadat. Ketika ayah Siti Nurbaya, Baginda Sulaiman, terjerat utang kepada Datuk Meringgih, cinta Nurbaya kepada Samsulbahri pun tak lagi punya suara. Sebab, adat menuntut kepatuhan, dan kepatuhan itu mengorbankan kebahagiaan. Akibatnya, Nurbaya harus menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya. Hal ini terjadi bukan karena ia mau, tetapi karena dunia di sekitarnya memerintah demikian.

Namun, menariknya, Marah Rusli tidak menulis adat sebagai musuh yang mutlak jahat. Ia lebih menulis tentang bagaimana manusia menjadi kecil di hadapan aturan yang mereka ciptakan sendiri. Siti Nurbaya tunduk, tetapi dengan kesadaran penuh. Ia tahu apa yang benar, tetapi memilih diam demi menjaga martabat ayahnya. Di sinilah letak kemuliaan cinta yang tak terucap, yaitu cinta yang berkorban, bukan cinta yang menuntut.

Samsulbahri, di sisi lain, mewakili nurani yang memberontak. Ia adalah suara modernitas yang ingin menembus dinding adat, tetapi tetap terikat oleh moralitas yang ditanamkan sejak kecil. Meskipun ia belajar hingga ke Batavia dan berpendidikan tinggi, batinnya masih diikat oleh rasa hormat dan kepasrahan pada keputusan orang tua. Ia berjarak, tetapi tidak benar-benar bebas. Ketika peluru dari senjatanya akhirnya menewaskan Datuk Meringgih, kita tahu bahwa itu bukanlah kemenangan, melainkan bentuk perlawanan yang lahir dari luka yang terlalu lama dipendam. Akhir kisahnya memang tragis—keduanya mati.

Namun, dalam kematian itu, kita justru melihat kemenangan nilai-nilai kemanusiaan. Marah Rusli menutup kisahnya bukan dengan kepedihan, melainkan dengan renungan bahwa cinta sejati tidak selalu harus menang. Cukup jika cinta itu mampu bertahan dalam kesetiaan, bahkan setelah segalanya berakhir. Mungkin di situ pulalah pesan halusnya: bahwa cinta sejati bukan milik masa muda atau masa lalu, melainkan milik hati yang tetap percaya pada kebenaran, meskipun dunia di sekitarnya tak lagi berpihak.