Melalui MAF: Makassar Siap Jadi Pusat Diplomasi Budaya Maritim Asia Tenggara

Melalui MAF: Makassar Siap Jadi Pusat Diplomasi Budaya Maritim Asia Tenggara

 

Makassar bergerak cepat memposisikan dirinya sebagai simpul strategis diplomasi budaya Asia Tenggara. Pertemuan panitia Makassar Arts Forum (MAF) dengan Dinas Kebudayaan Kota Makassar pada Kamis, 27/11/2025, menandai momentum kritis di mana festival seni ini mulai diletakkan di atas fondasi sejarah yang lebih kokoh. Utamanya,  melalui narasi jalur teripang yang menghubungkan Makassar dengan Australia Utara.

Konsep yang sedang difinalisasi ini bukan sekadar acara budaya tahunan. Ia dirancang sebagai pernyataan identitas: Makassar sebagai kota perdagangan berabad-abad lalu yang menjadi titik temu berbagai peradaban. Dalam bahasa para penggeraknya, MAF 2026 hendak merevitalisasi ingatan kolektif tentang Jalur Pesisir dan Jalur Teripang, yakni rute perdagangan kuno yang pernah menghubungkan para pelaut "Makassar" hingga ke benua Australia.

Peneliti Universitas Negeri Makassar, Asia Ramli Prapanca, menyajikan temuan yang menarik perhatian: lebih dari 500 kesamaan suku kata antara bahasa Makassar dan komunitas Aborigin di Australia Utara. Data linguistik ini membuka kemungkinan baru tentang sejarah kontak budaya maritim yang selama ini terlupakan.

Temuan semacam ini mengubah cara mengkurasi festival. Alih-alih hanya memamerkan kesenian kontemporer, MAF 2026 berambisi mengintegrasikan berbagai medium: dari seni lorong, pertunjukan panggung, film dokumenter, hingga program edukasi di sekolah-sekolah.

Sinyal menarik datang dari jaringan akademis Australia. Nurabdiansyah, pengamat dengan koneksi luas ke komunitas seni di benua selatan, melaporkan bahwa Makassar sedang menjadi pokok pembicaraan dalam diskusi budaya maritim di galeri dan museum Australia. Tidak ada kota lain di kawasan ini yang mendapat perhatian setara.

"Australia menunggu langkah kebudayaan dari Makassar," ujarnya, sekaligus membuka peluang kolaborasi riset dan pertukaran seniman.

Asmin Amin, salah satu pelopor utama proyek ini, mengusulkan format festival tematik yang berganti setiap tahunnya. Tahun ini jalur teripang; tahun depan bisa jalur rempah atau jalur sutra. Strategi ini dirancang untuk kontinuitas narasi sambil tetap menyediakan variasi yang menarik pengunjung jangka panjang.

"Makassar adalah kota pendamai dan pelintas budaya," katanya. Pemilihan tema maritim bukan hanya nostalgia; ia adalah pemulihan identitas yang pernah hilang dalam narasi modern tentang kota.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Makassar, Andi Patiware, memberikan jaminan dukungan penuh. Dia mengakui bahwa Makassar masih belum memiliki festival kebudayaan yang secara konsisten menjadi ikon kota, dan MAF bisa mengisi kekosongan tersebut.

Namun demikian, tantangan teknis tidak ringan. Tim Kerja MAF, diwakili Andri Prakarsa, telah menyusun blueprint pengembangan untuk dekade ke depan. Aspek kurasi profesional, pendanaan berkelanjutan, dan sinkronisasi dengan agenda resmi pemerintah menjadi prioritas utama.

"Percepatan koordinasi sangat diperlukan agar Makassar tidak kehilangan momentum," katanya, mengisyaratkan bahwa jendela peluang kolaborasi internasional ini terbuka namun terbatas.

Jika pelaksanaan berjalan sesuai rencana, MAF 2026 akan menjadi salah satu event kebudayaan terbesar yang tidak hanya merayakan seni kontemporer, tetapi juga menegaskan kembali hubungan historis Makassar dengan dunia melalui diplomasi maritim. Festival ini disiapkan untuk berstandar internasional, dengan jangkauan global yang melampaui sekadar atraksi turis lokal.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah Makassar mampu menerjemahkan ambisi besar ini menjadi pelaksanaan yang mulus. Waktu terus berjalan, dan Australia tampaknya tidak sabar menunggu.