Membaca Indonesia dari Pinggiran: Gugatan Literasi Parangtambung atas Hegemoni Sejarah

Membaca Indonesia dari Pinggiran: Gugatan Literasi Parangtambung atas Hegemoni Sejarah

MAF-Di sebuah sudut di Parangtambung, sebuah gerakan literasi sedang melakukan interupsi terhadap cara kita mengonsumsi sejarah. Melalui kolektif Parangtambung Literature Clinic (PLC), narasi besar tentang "Keindonesiaan" tidak lagi hanya dibahas di simposium formal yang kaku, melainkan dikembalikan ke meja-meja diskusi warga melalui program ambisius: Satu Tahun Membaca Indonesia.

Pada pertemuan kelima yang dijadwalkan 10 Februari mendatang, PLC membawa kembali "hantu" yang paling ditakuti Orde Baru namun paling dirindukan oleh pencari keadilan: Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.

Sastra sebagai Senjata, Bukan Pajangan
Bagi PLC, memilih Bumi Manusia bukan sekadar nostalgia pada romansa Minke dan Annelies di Wonokromo. Ini adalah upaya dekolonisasi pikiran. Susi Febriani, seorang pemantik dari Bengkel Sastra UNM, meletakkan diskusi ini pada lokus yang krusial: pendidikan sebagai pisau bermata dua.

"Membaca Bumi Manusia adalah proses menyakitkan," ungkap Susi. Pernyataan ini menjadi refleksi tajam bagi pembaca Indonesia hari ini; di mana pendidikan sering kali hanya menjadi pabrik pencetak tenaga kerja, Pramoedya melalui sosok Minke justru menunjukkan bahwa pendidikan adalah alat pertama untuk menyadari bahwa kita sedang dijajah. Susi melemparkan otokritik yang relevan bagi generasi Z dan milenial: di tengah banjir informasi digital, sejauh mana pemikiran kita benar-benar berdaulat?

Inklusivitas di Tengah Eksklusivitas Akademik
Di saat ruang-ruang intelektual di Indonesia sering kali terjebak dalam sekat-sekat gelar dan jabatan, PLC mencoba meruntuhkan tembok tersebut. Nyul, salah satu penggerak, membuka pintu selebar-lebarnya bagi lintas disiplin ilmu. Ini adalah praktik "estetika politik" yang nyata (meminjam istilah Jacques Rancière) di mana setiap orang, tanpa memandang latar belakang, memiliki hak yang sama untuk berbicara dan memaknai teks.

Diskusi ini menjadi penting karena dilakukan di Makassar, kota dengan sejarah perlawanan yang panjang, namun kini tengah berjuang melawan pendangkalan literasi di ruang publik. Mengundang masyarakat umum untuk membedah Pramoedya di Parangtambung adalah sebuah pernyataan bahwa literasi sejarah adalah milik kolektif, bukan hanya milik mereka yang duduk di menara gading universitas.

Pertemuan ini bukan sekadar bedah buku; ini adalah sebuah upaya kecil namun konsisten untuk memastikan bahwa embrio kebangsaan yang digambarkan Pramoedya satu abad lalu, tidak mati di tangan ketidakpedulian kita sendiri hari ini.