Membongkar Mitos Pribumi Malas lewat Konstruksi Kolonial
Malas! Seruan itu lahir di perkebunan kolonial, tapi masih bergema di ruang kelas dan kantor kita hari ini. Pertanyaannya bukan siapa yang malas, melainkan siapa yang berhak mendefinisikannya.
Apa sebenarnya oposisi kata ini? Rajin! Namun, bagaimana definisi rajin bagi orang yang memberikan instruksi, serta bagaimana standar rajin dan kemajuan di era kolonialisme? Demikianlah Syekh Husain Alatas mempertanyakan mitos "pribumi malas" yang justru merupakan hasil konstruksi demi kepentingan kolonial [1].
Kata malas ini digunakan penjajah untuk mengeksploitasi pribumi sebagai masyarakat yang terjajah. Penjajah membawa standar dan definisi yang sesungguhnya tidak akrab dengan kebiasaan pribumi. Mereka menuding pribumi malas, padahal pribumi berpikir: bagaimana mungkin kami mau mengerjakan sesuatu yang akibatnya bukan untuk kepentingan kami [2]? Kami terbiasa bekerja bukan semata untuk akumulasi, melainkan untuk keperluan kolektif agar sekadar cukup untuk hidup. Sayangnya, kata "cukup" ini akhirnya dianggap sebagai kemampuan terbatas pribumi yang enggan memaksimalkan sumber daya. Padahal, cara berpikir sosial mereka memang seperti itu; mereka memiliki konsep sendiri tentang hubungan antar manusia, lingkungan sekitar, dan penciptanya [3]. Penjajah memaksakan "baju"-nya untuk digunakan masyarakat setempat, dan karena tidak cocok, pribumi pun dituding malas.
Siapa yang menyebarkan stereotip tersebut secara luas? Mereka adalah para intelektual yang sengaja dikirim atau berpetualang ke negara-negara jajahan [4]. Selain menggunakan pengalaman sosialnya untuk menilai kondisi masyarakat setempat (yang tentu berbeda dengan konteks pribumi), mereka juga dimanfaatkan untuk mempertahankan sistem kerja paksa kolonial [5]. Tulisan-tulisan mereka yang dianggap sebagai hasil penelitian objektif itulah yang kemudian dipakai untuk melegitimasi tindakan kolonial di negeri jajahan [6].
Nahasnya, saat itu ilmu pengetahuan memang menjadi alat yang “kejam”, rasis, karena sampai pada tahap mengklasifikasikan tipe manusia. Simaklah bagaimana sosiologi dan etnografi awal dijadikan sebagai sarana rasisme biologis. Untuk menunjukkan keunggulan Eropa, Charles Letourneau mengklasifikasikan ras manusia (hitam, kuning, dan putih) berdasarkan ukuran otak. Sementara itu, Lester F. Ward menggunakan bahasa biologi evolusioner dengan menelaah bahwa penduduk pribumi Australia memiliki karakteristik kera secara fisik dan mental [7]. Hal tersebut digunakan sebagai justifikasi ilmiah guna melegitimasi tindakan di negeri jajahan yang diklaim sebagai tahap pengadaban.
Artinya, kita memang hidup dalam definisi atau standar kekuasaan sejak era kolonialisme. Sebagaimana kata Zizek, cukup menyakitkan memang jika ingin keluar dari zona yang telah berlangsung lama ini. Kebiasaan-kebiasaan yang melekat pada keseharian saat ini telah menjadi struktur realitas yang memaksa kita melihat kekerasan struktural yang ada [8]. Itulah mengapa ekstraktivisme yang menggantungkan segala hal padanya merupakan biang ideologis yang perlu dilawan dengan pembangkangan.
Alatas mengatakan bahwa ideologi malas itu sebenarnya memang terdesain dan sengaja diciptakan. Padahal, kata “malas” yang dilekatkan pada pribumi justru merupakan bentuk pembangkangan atau perlawanan masyarakat setempat [9]. Pribumi tidak ingin menjadi buruh murah di tambang milik Eropa saat itu karena sistem kerjanya yang kejam dan brutal. Tudingan malas bukan berarti pribumi tidak bekerja. Faktanya, mereka bekerja keras dalam sistem ekonominya sendiri; mereka bertani, melaut, dan bertukang, yang semuanya tidak bisa dirampas penjajah untuk keuntungannya [10].
Sayangnya, mitos malas ini tidak lantas mati dan masih sering kita dengar. Dalam bab 10 bukunya, Revolusi Mental dan Kemalasan Orang Melayu, Alatas menyinggung sikap pemerintah yang justru sekadar cuci tangan dari ketumpulan sistem pengelolaan negara [11]. Hal itu direspons Alatas ketika Malaysia menerbitkan buku Revolusi Mental (1971) yang menuding bahwa kurangnya inisiatif dan kemalasan individu warganya menjadi penyebab ketertinggalan dan kemiskinan [12].
Lalu, bagaimana dengan Revolusi Mental yang pernah didengungkan pada akhir 2014 di Indonesia? Sudahkah hal itu menurunkan indeks korupsi? Sudah berhentikah kita menyalahkan tukang parkir atau pengemis di jalanan sebagai kelompok yang malas mencari pekerjaan? Selama hal itu masih terjadi, berarti ada yang tidak beres dari sistem kebijakan. Kondisi tersebut merupakan dampak nyata dari eksploitasi kapitalisme kolonial yang jejaknya belum sepenuhnya terhapus (ingat kata Zizek: menyakitkan untuk ditanggalkan). Menuntut rakyat yang tertindas untuk berubah tanpa merombak struktur ekonomi yang tidak adil hanya menjadikan revolusi mental sebatas jargon, sekaligus menjadi bentuk lain dari watak imperialis itu sendiri.
Pendek kata, mitos “pribumi malas” adalah jejak sejarah yang dibentuk secara ideologis oleh kepentingan kolonial untuk memaksakan definisi kerja dan akumulasi di wilayah jajahan. Selama kita lebih sibuk mengubah mental korban daripada meruntuhkan struktur yang mengorbankannya, mitos itu sebenarnya belum mati, melainkan sekadar berganti nama.
Catatan Kaki:
[1] Syed Hussein Alatas, Mitos Pribumi Malas: Imej Orang Jawa, Melayu dan Filipina dalam Kapitalisme Penjajah (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1989). Pelabelan "malas" ini secara historis dirancang sebagai unsur sentral ideologi kapitalisme kolonial untuk membenarkan penaklukan dan ketidakadilan dalam memobilisasi tenaga kerja di wilayah jajahan.
[2] Sikap menolak ini bukanlah kemalasan secara alamiah, melainkan bentuk perlawanan rasional secara pasif. Penduduk lokal enggan bekerja semata-mata karena mereka menolak kondisi kerja yang brutal, penindasan, dan upah yang sangat rendah di sektor kapitalis seperti perkebunan atau pertambangan milik Eropa.
[3] Cara berpikir serupa juga disoroti oleh pemikir dari Afrika, Akinsola Akiwowo, melalui Teori Sosiasi Asuwada. Masyarakat tradisional memandang individu dan pekerjaannya sebagai bagian dari harmoni kolektif komunitas dan pancaran spiritual, sebuah epistemologi yang dinilai "terbelakang" oleh teori evolusi kapitalis Barat karena tidak bertumpu pada individualisme dan akumulasi kekayaan. lihat, "Asuwada Epistemology and Globalised Sociology: Challenges of the South" karya Ayokunle Olumuyiwa Omobowale dan Olayinka Akanle (2017).
[4] Raewyn Connell, Southern Theory: The Global Dynamics of Knowledge in Social Science (Cambridge: Polity, 2007), 9. Intelektual metropol dan pejabat kolonial Eropa secara aktif menggunakan pengamatan sepihak mereka sebagai bahan mentah teori evolusioner awal.
[5] Alatas, Mitos Pribumi Malas, xii.
[6] Ibid., 62. Ideologi kapitalisme kolonial secara sistematis memanfaatkan "penelitian" ini untuk membenarkan penindasan serta memuluskan pengerahan tenaga kerja paksa.
[7] Lihat tentang Charles Letourneau dan Lester F. Ward, dikutip dalam Raewyn Connell, Southern Theory: The Global Dynamics of Knowledge in Social Science (Sydney: Allen & Unwin, 2007), 11 dan 77.
[8] Slavoj Žižek, The Sublime Object of Ideology (London: Verso, 1989), 44. Žižek menegaskan bahwa ideologi bukanlah sekadar ilusi yang menutupi realitas, melainkan fantasi yang menstrukturkan realitas sosial itu sendiri. Keluar dari ideologi ini membutuhkan konfrontasi yang menyakitkan dengan kenyataan struktural.
[9] Alatas, Mitos Pribumi Malas, 115. Alatas mencatat bahwa gejala yang digolongkan sebagai kemalasan oleh penjajah pada hakikatnya adalah protes diam-diam terhadap eksploitasi.
[10] Ibid., 56. Masyarakat pribumi bukannya tidak memiliki daya juang; mereka tekun mengelola lahan pertanian, kebun, dan melaut di luar sistem ekonomi kapitalis penjajah yang memeras keringat mereka.
[11] Ibid., 140.
[12] Ibid., 143. Buku Revolusi Mental mengabaikan eksploitasi historis dan justru menyalahkan karakter psikologis rakyat atas kemiskinan struktural, sebuah cerminan nyata bagaimana elit pascakolonial mewarisi kacamata penjajah.