Mural Dally Mozartdy dan Hubungan Tanpa Hierarki di Nipah Park
Pemandangan seni kontemporer Makassar terus berkembang dengan kehadiran mural karya Dally Mozartdy di Nipah Park, sebuah instalasi yang dimulai sejak Makassar Biennale, ReVIval 2025 berlangsung. Karya ini mengundang pengunjung untuk memasuki jaringan makna yang kompleks dan terbuka.
Dally Mozartdy adalah salah satu seniman muda Makassar yang aktif dalam komunitas seni rupa. Ia terlibat dalam berbagai pameran, kegiatan kesenian, dan proyek artistik lainnya. Praktik seninya dibangun atas prinsip fundamental: menggunakan instrumen-instrumen dan objek-objek budaya sebagai medium untuk mengekspresikan fenomena dan kegelisahan sosial yang dialami masyarakat.
Karya mural Mozartdy di Nipah Park tidak menghadirkan satu narasi utama atau pesan yang tertutup. Sebaliknya, ia membangun koneksi horizontal antara berbagai elemen budaya dan makna. Ikan dan kuda tidak berada dalam relasi hierarki. Satu tidak lebih penting dari yang lain. Keduanya hadir sebagai mitra setara dalam percakapan visual, menciptakan ruang di mana perbedaan dapat hidup berdampingan tanpa terpaksa menjadi satu.
Pendekatan ini memungkinkan budaya lokal dan modernitas tidak harus dipilih, melainkan bisa saling berdialog dalam ketegangan yang produktif.
Elemen-elemen ornamen Sulawesi Selatan yang mengelilingi kedua figur utama bukan hanya dekorasi. Mereka adalah pintu-pintu yang membuka berbagai kemungkinan untuk membaca dan memahami pappasang (nasihat leluhur). Alih-alih mengunci warisan budaya dalam satu makna tetap, ornamen-ornamen ini membiarkan tradisi untuk terus mengalir, berubah bentuk, dan beradaptasi sesuai dengan kebutuhan zaman sekarang.
Karya ini menghindari cara pandang yang melihat budaya Sulawesi Selatan sebagai barang antik yang perlu diawetkan. Sebaliknya, ia menampilkan budaya sebagai sesuatu yang hidup, bergerak, dan terus berkembang.
Ikan dan kuda dalam mural bukan sekadar simbol statis dari "alam" atau "lingkungan". Mereka adalah bagian aktif dari jaringan relasi yang terus berubah. Ia melibatkan manusia, teknologi, modernisasi, dan warisan budaya. Semua elemen ini tidak dalam keadaan tetap, melainkan dalam kondisi perubahan berkelanjutan.
Dengan melihat ekologi dengan cara ini, mural Mozartdy menunjukkan bahwa alam dan budaya bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan bagian dari satu sistem kehidupan yang saling terhubung dan terus bermutasi.
Kegelisahan sosial yang Mozartdy sampaikan bukan sekadar protes terhadap modernisasi. Ia adalah resistansi terhadap upaya untuk mengatur, mengkodifikasi, dan mengontrol makna budaya. Utamanya, dalam konteks globalisasi dan teknologi yang pesat.
Dengan menempatkan pappasang di ruang publik, di tengah-tengah kehidupan kota Makassar, karya ini melepaskan warisan budaya dari kurungan museum atau buku sejarah. Ia membiarkan makna untuk terus bergerak, bertemu dengan perspektif baru, dan berevolusi sesuai dengan pengalaman kontemporer masyarakat.
Instalasi mural Dally Mozartdy tetap dapat diakses di Nipah Park, mengundang pengunjung untuk tidak hanya melihat, melainkan untuk merasakan bagaimana budaya lokal dan pengalaman kontemporer dapat saling bertemu dalam harmoni yang dinamis. Karya ini menawarkan pengalaman seni yang tidak tertutup pada satu tafsir, melainkan terus terbuka pada pemahaman-pemahaman baru yang lahir dari setiap pertemuan dengan penikmat seni.