Rahmat Qadriyanto: Merawat Ingatan Laut, Membekukan Sampah Menjadi Estetika
MAKASSAR ART FILES. Di tangan Rahmat Qadriyanto, tutup botol plastik tak berakhir sebagai residu yang mencekik biota laut. Di studionya, limbah polimer itu meleleh, memadat, dan bertransformasi menjadi papan-papan artistik. Ia tidak sedang mendaur ulang sampah semata; ia sedang memberi "nyawa kedua" pada material yang dibuang peradaban.
Pria yang akrab disapa Kadokerr ini akan menjadi sorotan utama dalam sesi Artist Talk Makassar Biennale (MB) 2025 yang digelar malam ini (Pukul 20.00 WITA), Minggu, 30 November, melalui Live Streaming Youtube Makassar Biennale. Sebagai seniman visual, Kadokerr bukanlah nama yang tumbuh dalam semalam. Jejaknya merentang dari tembok jalanan, ruang pameran NFT, hingga laboratorium akademis di Yogyakarta.
Perjalanan seni Kadokerr dimulai dari akar rumput. Ketertarikannya pada visual tumbuh sejak bangku SMA, kemudian dimatangkan di Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar (UNM). Di sanalah, melalui BKMF De Art Studio, ia mulai memahami bahwa seni bukan sekadar soal keindahan, melainkan juga soal keberpihakan.
Kadokers tak berpuas diri. Tahun 2023, ia menyeberang ke Jawa, menajamkan pisau analisisnya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Di kota pelajar itu, ia merampungkan studi magister pada 2025 dengan sebuah tesis penciptaan yang radikal: transformasi tutup botol plastik dalam seni rupa. Baginya, plastik adalah simbol paradoks zaman ini: tahan lama namun merusak, berguna namun mematikan.
Melintasi Tembok Fisik dan Digital
Kiprah Kadokerr adalah potret seniman hibrid masa kini. Di satu sisi, ia piawai menguasai ruang fisik. Ia pernah mewakili Polda Sulsel dalam Bhayangkara Mural Festival di Jakarta (2021) dan terlibat dalam pelbagai kompetisi melukis tingkat nasional.
Di sisi lain, ia fasih berbicara dalam bahasa algoritma. Namanya tercatat sebagai runner-up dalam kompetisi ilustrasi Acer Indonesia “Your NFT Journey” dan masuk dalam jajaran 10 besar Lenovo Yoga NFT Competition (2022). Ia membuktikan bahwa kanvas seniman hari ini tidak lagi terbatas pada kain blacu, tetapi meluas hingga ke blockchain.
Gerilya "Temancoret" dan Ekologi
Kadokerr bukan seniman yang asyik dengan dirinya sendiri. Kesadarannya akan ruang publik melahirkan Temancoret, sebuah kolektif dan ruang kolaborasi yang ia dirikan untuk mewadahi ekspresi kreatif. Melalui Temancoret Studio, ia menginisiasi serangkaian pameran lintas kota, mulai dari “Coretan Dalam Saku” di Yogyakarta, “Butta Toa Exhibition” di Bantaeng, hingga “Greenovation Exhibition” di Makassar awal tahun ini.
Dalam karya muralnya di Nipah Park yang bertajuk "Revival", Kadokerr kembali membawa isu yang menjadi kegelisahan utamanya: identitas maritim dan ekologi. Ia membenturkan estetika pop yang cerah dengan pesan-pesan subliminal tentang laut yang sekarat akibat plastik.
Malam ini, publik Makassar diundang untuk mendengar langsung bagaimana Rahmat Qadriyanto "memasak" ide-idenya. Bukan hanya tentang bagaimana menggambar beruang robot atau babi bersayap, tetapi bagaimana seorang seniman muda asal Makassar berupaya menjaga kewarasan bumi lewat seni, satu tutup botol demi satu tutup botol.