"REVIVAL" Ini Lahir dari "SURVIVAL": Catatan Pembukaan Direktur Makassar Biennale 2025
LAPORAN DIREKTUR MAKASSAR BIENNALE
PADA ACARA PEMBUKAAN MAKASSAR BIENNALE 2025: "REVIVAL"
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.
Yang terhormat, Bapak Walikota Makassar, Bapak Munafri Arifuddin.
Yang terhormat, Rektor Kalla Institute beserta seluruh jajaran akademika.
Yang kami hormati, narasumber utama kita, Professor Tom Murray.
Yang kami banggakan, para Kurator Makassar Biennale 2025.
Yang kami muliakan, seluruh seniman, budayawan, pegiat komunitas, dan para kawan-kawan gotong royong MB 2025.
Hadirin sekalian, dan para tamu undangan yang berbahagia.
Selamat datang di Pembukaan Makassar Biennale 2025. Ini merupakan sebuah kehormatan dan kebahagiaan luar biasa dapat berdiri di sini, untuk memulai sebuah perjalanan yang kami beri nama: "REVIVAL".
Hadirin sekalian,
Saat kami memilih "REVIVAL" sebagai tema, ini bukanlah sekadar pilihan kata. Ini adalah sebuah sikap. Sebuah pertanyaan fundamental yang kami ajukan kepada diri kita sendiri, dan kepada kota ini.
Kita sering bertanya: Apa arti seni bagi warga Makassar?
Apa arti glorifikasi kita terhadap temuan arkeologis peradaban di Soppeng? Apa makna kita merayakan karya seni gua purba di Leang-leang? Dan apa arti kekuatan puisi liris terpanjang di dunia, La Galigo, jika semua itu tidak mengalir ke dalam nadi pengetahuan warga, dan tidak menjadi cara kita berpikir?
Sebab, seni adalah produk pikiran. Ia adalah cara berpikir yang menjelaskan cara kita menjadi manusia. Oleh karena itu, Makassar Biennale 2025 dihelat!
Tapi mari kita jujur di forum ini. Jalan untuk sampai ke hari ini tidaklah mudah. Kita semua sadar akan polemik yang mendahului peristiwa ini. Justru karena polemik itulah, kami, sebagai sebuah kolektif, merasa terpanggil untuk ‘mengambil’ kembali peristiwa seni ini; mengembalikannya pada semangat, visi, dan komunitasnya.
Kami belajar satu kata penting. Ini bukan hanya soal awakening. Kami sadar bahwa "REVIVAL" ternyata memerlukan kata "SURVIVAL" di dalamnya.
Kita tidak menyerah! Karena itu frasa prasyarat mutlak untuk bisa bangkit.
Hadirin sekalian,
Karena "survival" itulah, REVIVAL ini adalah awakening. Kebangkitan dari segala aspek yang selama ini tidak terlihat, tidak didengarkan, terpinggirkan, dan sengaja tidak dijadikan bagian dari suatu bagian.
Karena "survival" itulah, Makassar Biennale 2025 mengambil posisi. Ia adalah sebuah Interupsi.
Interupsi atas segala bentuk tatanan sosial-politik yang kaku, yang tidak saja seenaknya ‘membagi-bagi bagian’, namun juga ‘mendistribusikan bagian’ mana yang berhak disebut "bagian" dan mana yang bukan.
Makassar Biennale, bagi kami, adalah sebuah Politik dan Praktik Kesetaraan. Kami berupaya menggunakan jalan estetika seni sebagai alat untuk satu tujuan: Emansipasi dan Subjektivasi bagi semua.
Maka, selama 17 hingga 30 November nanti, "kebangkitan" yang lahir dari "kegigihan" ini akan kita wujudkan dalam:
-
Simposium Internasional bersama Professor Tom Murray hari ini.
-
Live Murals dari 6 seniman muda kita yang mengambil alih ruang komersial di Nipah Mall.
-
Performance Art oleh Asia Ramli Prapanca dan rekan-rekan seniman lainnya yang akan mengintervensi titik-titik tak terduga di ruang publik.
-
Serta Forum Kurator, Artist Talk, Kelas Penulisan, dan Workshop Arsip yang akan kita jalani bersama.
Ini semua adalah upaya kolektif. Dan saya ingin berterus terang di forum terhormat ini.
Makassar Biennale 2025 tidak berjalan dengan pembiayaan yang signifikan.
Apa yang Anda lihat hari ini adalah murni hasil gotong royong. Kami bekerja hanya dengan semangat. Ada kawan yang membeli baju merchandise kami, yang dananya kami putar kembali untuk operasional. Ada kawan-kawan yang menyumbang untuk sekadar membeli bensin transport, atau untuk membeli kopi agar kami bisa terus rapat dan bekerja.
Inilah "REVIVAL" yang sesungguhnya. Inilah "SURVIVAL" yang kami maksud.
Untuk itu, apresiasi tertinggi kami haturkan kepada para mitra formal yang luar biasa: Kalla Institute sebagai tuan rumah, dukungan dari Pemerintah Kota Makassar, DKSS, FSD UNM, Makassar Arts Forum, Sky Project Official, Marege Institute, Penerbit Subaltern, Tesla, dan para sponsor lainnya.
Namun, apresiasi terdalam kami, salut kami yang tak terhingga, adalah untuk setiap kawan, setiap individu, yang telah bergotong royong, yang percaya bahwa kita tidak boleh menyerah. Kalian adalah jantung dari REVIVAL ini.
Terakhir, Makassar Biennale 2025 bukan hanya untuk dilihat. Ia kami rancang untuk dialami, didiskusikan, dan diperdebatkan. Mari kita jadikan dua minggu ke depan sebagai perayaan bahwa kita telah bertahan, dan kini, kita bangkit bersama-sama. Selamat menikmati Makassar Biennale 2025.
Wabillahi taufiq wal hidayah,
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Senin, 17 November 2025
Irfan Palippui
Direktur Makassar Biennale