Sastra, Seni, dan Mitos Objektivitas
Kebenaran sering kali dibayangkan sebagai cermin yang jernih—sebuah permukaan yang mampu memantulkan realitas tanpa sedikit pun distorsi. Seperti kita melihat wajah sendiri di hadapannya, begitu nyata, jujur, dan apa adanya. Entah kapan itu, kita sepertinya diajarkan sejak awal bahwa ilmu pengetahuan yang baik adalah ia yang sepenuhnya netral: bebas dari prasangka, bebas dari emosi, bebas dari kepentingan. Dan objektivitas, dalam bayangan itu, adalah mahkota tertinggi yang bisa diraih oleh seorang ilmuwan atau pemikir. Di saat yang sama, subjektivitas justru dianggap rendah dan lemah posisinya. Tapi benarkah cermin itu pernah ada?
Lalu tak sengaja saya berjumpa sebuah buku, judulnya terkesan biasa saja, Objectivity and Its Other (1995). Buku yang sudah beredar lebih dari tiga dekade, ditulis oleh beberapa orang dari beragam latar belakang akademik. Membacanya di bagian awal, saya cukup dibuat tercengang—ada sesuatu yang menyentuh muka pikiran saya, pikiran yang sebenarnya sudah lama sekali, menyoal objektivitas yang dulu pernah kami debatkan di kelas. Kelas berakhir dengan menyisakan simpulan yang dipertanyakan bahwa tolok ukur suatu kebenaran adalah mesti objektif!
Dalam buku 213 halaman ini, Wolfgang Natter bersama para kontributornya mengajukan sebuah gugatan yang tenang namun mendasar. Mereka mempertanyakan asumsi lama, persis seperti simpulan kami di kelas dulu, yang mana kebenaran realitas sosial bisa dan seharusnya didekati dengan “cara yang rasional, tidak memihak, tidak berprasangka, dan adil”, dengan menerapkan prosedur dan teknik yang meniru ilmu-ilmu alam, seolah-olah pengamat bisa sepenuhnya melepaskan diri dari apa yang diamatinya.
Buku ini, yang terdiri dari sepuluh esai dengan latar disiplin yang beragam—dari sastra hingga ilmu manajemen, dari sejarah hingga geografi—membuktikan bahwa asumsi itu tidak hanya naif, tetapi juga berbahaya. Di balik klaim netralitas, selalu ada yang disembunyikan. Samuel Weber, salah satu kontributor dalam buku ini misalnya, berargumen bahwa objektivitas sesungguhnya memiliki banyak yang lain (others), dan tidak ada pemisahan absolut antara subjektivitas dan objektivitas. Objektivitas, dalam pandangannya, bukan kondisi alamiah melainkan sebuah mekanisme stabilisasi. Ia menawarkan ilusi penyelesaian konflik dan penetapan kontrol. Dengan kata lain, klaim objektivitas adalah juga klaim kekuasaan.
Sementara itu, Gunnar Olsson mempertajam argumen ini dengan mengidentifikasi tiga krisis yang berada di jantung persoalan: krisis representasi, krisis intensionalitas, dan krisis kredibilitas. Yang pertama berkaitan dengan jurang permanen antara penanda dan petanda, bahwa bahasa tidak pernah benar-benar mampu menangkap realitas yang ingin ia gambarkan. Yang kedua menyangkut kenyataan bahwa makna selalu lolos dari intensi pengarangnya dalam proses komunikasi. Dan yang ketiga menegaskan bahwa “membuat makna” selalu berarti memenangkan kepercayaan di mata orang lain—dan itu tidak lepas dari relasi kuasa.
Bagi yang bergelut di bidang studi sastra, juga saya pribadi, argumen-argumen tersebut terasa seperti tanah yang sudah lama kita tapaki—meski tidak selalu kita sadari sepenuhnya. Sastra, lebih dari disiplin mana pun, hidup dalam kesadaran bahwa bahasa tidak transparan. Kita tahu bahwa sebuah teks tidak hadir sebagai jendela bening ke realitas, melainkan sebagai konstruksi—sesuatu yang dibentuk oleh pilihan-pilihan: diksi, struktur, sudut pandang, dan keheningan yang sengaja diciptakan. Namun paradoksnya, dalam tradisi kritik sastra, khususnya di perguruan tinggi, sastra justru sering kali disalahmaknai sebagai representasi realitas yang setara dengan kenyataan itu sendiri.
Sebuah novel dianggap “realistis” ketika ia berhasil meyakinkan pembaca bahwa apa yang digambarkannya adalah dunia sebagaimana adanya. Misalnya prosa yang mengambil pusat penceritaan yang bersumber dari peristiwa sejarah (Perang Revolusi, G30S, Reformasi, dll). Padahal yang terjadi sebenarnya adalah sebuah negosiasi yang sangat terampil antara teks, pembaca, dan konteks. Bonnie Smith, dalam esainya tentang sejarah historiografi yang termuat dalam buku ini, memberikan ilustrasi yang menarik dan tajam, bagaimana penulisan “objektif” dalam tradisi sejarah selama berabad-abad sesungguhnya sarat dengan bias gender—mengonseptualisasikan sejarawan sebagai “penetrator” dari domain yang “perawan”, sebuah metafora yang jelas bukan netral.
Ketika perempuan mulai menulis sejarah, mereka tidak hanya membawa subjek-subjek baru, tetapi juga bahasa dan cara representasi yang berbeda. Objektivitas, ternyata, punya wajah—dan wajah itu selama ini adalah wajah laki-laki. Analogi tersebut tentu berlaku pula dalam sastra. Kanon sastra yang selama ini dianggap sebagai kumpulan karya "terbaik" dan "universal" ternyata adalah konstruksi yang mencerminkan selera, nilai, dan kekuasaan kelompok tertentu. Universalitas yang biasanya dibalut ornamen objektivitas itu sendiri adalah sebuah klaim yang perlu dipertanyakan.
Pertanyaan yang sama bisa kita ajukan pada dunia seni. Di Makassar, kota yang selama ini lebih sering dikenal lewat narasi perdagangan dan pelabuhan, geliat seni rupanya menyimpan tegangan yang serupa. Ketika sebuah pameran atau pertunjukan seni diselenggarakan—katakanlah di ruang-ruang seperti Rumata' Artspace atau dalam perayaan seperti Makassar International Writers Festival—selalu ada pertanyaan yang mengintai di balik kurasi dan gagasan: karya dan pikiran siapa yang layak ditampilkan? Suara siapa yang dianggap representatif? Dan siapa yang berhak mendefinisikan apa itu "seni Makassar" yang sesungguhnya?
Tentu, klaim objektivitas dalam dunia seni bekerja dengan cara yang lebih halus namun tidak kalah kuatnya. Ia hadir dalam bentuk standar estetika yang dianggap universal, dalam hierarki antara seni "tinggi" dan seni "rakyat", dalam penilaian tentang karya mana yang layak didokumentasikan dan mana yang cukup ada lalu terlupakan. Di sinilah “the other” dari objektivitas itu muncul dengan wajah yang paling nyata, seniman jalanan yang karyanya tidak masuk katalog, pertunjukan tradisional yang tidak dianggap cukup "kontemporer", atau suara-suara perempuan yang masih harus berjuang lebih keras untuk mendapat panggung yang setara. Lalu apa yang ditawarkan sebagai alternatif?
Yang menarik dari buku ini adalah ia tidak berhenti pada kritik. Ia tidak jatuh ke dalam relativisme yang serba boleh, tidak pula menyerah pada nihilisme epistemologis. David Couzens Hoy, misalnya, mengusulkan dialog hermeneutis yang terbuka—mengikuti jejak Gadamer—di mana etnosentrisme yang sempit bisa dilawan bukan dengan klaim objektivitas baru, melainkan dengan memperluas cakrawala pemahaman tanpa menghapus pluralisme. Dan yang paling menggugah bagi saya adalah gagasan “ultraobjectivity” dari James Boon—sebuah konsep yang mengundang kita untuk melampaui objektivitas, membawanya melewati batas-batas konvensionalnya.
Boon mengusulkan pembacaan ulang yang terus-menerus terhadap budaya dan teks-teksnya, untuk menemukan kembali perbedaan-perbedaan yang halus dan liar yang biasanya lolos dari tatapan sistematisasi sang ilmuwan. Bagi Boon, ultraobjektivitas adalah seni—bukan ilmu—dari mempertanyakan ulang dan terus-menerus merasa terkejut oleh apa yang sudah kita kira kita ketahui. Dalam studi sastra, bukankah itulah yang selalu kita lakukan pada akhirnya? Membaca ulang. Menemukan makna baru. Merasa terkejut oleh teks yang sudah ratusan kali dibaca orang lain.
Mungkin Theodor Adorno sudah merumuskannya dengan paling tepat: "the (social) subject is the agent of the object." Subjek sosial adalah agen dari objek itu sendiri. Tidak ada pengetahuan yang lahir di ruang hampa. Tidak ada pembacaan yang datang dari "mana-mana."
Mengakui hal ini bukan berarti menyerah pada chaos atau menyatakan bahwa semua tafsir sama validnya. Ia justru adalah bentuk kejujuran intelektual yang paling mendasar—kesadaran bahwa setiap klaim tentang dunia selalu sudah merupakan tindakan yang bermuatan: oleh sejarah, oleh posisi, oleh cara kita memandang.
Objektivitas, dalam pengertian yang murni dan absolut, mungkin memang tidak pernah ada. Yang ada adalah dialog—dialog yang terbuka, yang terus berproses, dan yang selalu melibatkan lebih dari satu suara. Dan mitos itu, sudah saatnya kita baca ulang.